News

Pertemuan YDBA dan POLMAN ASTRA dengan MENPERIN Airlangga Sucipto

Friday, 16 September 2016 15:17 Thomas Hargono
Print PDF
There are no translations available.

Pada tanggal 26 Agustus 2016, Menteri Perindustrian (Menperin) RI, Airlangga Hartarto, mengundang YDBA dan Polman Astra untuk bertukar pikiran dan mensharingkan pengalaman pengembangan vokasi untuk pengembagan industri kecil di Indonesia.

Polman Astra mensharingkan best practice Astra Dual System yang selama ini diimplementasikan di Polman Astra. Tony H. Silalahi selaku Direktur Polman Astra menambahkan bahwa dengan basis Astra Dual System, dapat dikembangkan strategi khusus untuk mengakselerasi pengembangan industri kecil dengan membuat kombinasi apprenticeship system di UKM dan Industri inti.

 

Contributor berita : Teofilus Larosa


Berikut beberapa dokumentasi dan captionnya

 

(seluruh dokumentasi adalah milik Purel YDBA)

polman-menperin2.png

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

polman-menperin1.png

Last Updated on Friday, 16 September 2016 15:24
 

Foto : Kemeriahan Ulang Tahun POLMAN ASTRA ke 21

Friday, 16 September 2016 11:00 Thomas Hargono
Print PDF
There are no translations available.

Dengan tajuk “Mencetak Insan yang Berkualitas dan Kompeten” perayaan HUT POLMAN ASTRA ke 21 dimulai dengan perlombaan-perlombaan antar karyawan yang digelar sejak tanggal 5-9 September dan diakhiri pada tanggal 14 September 2016 dengan diselenggarkannya ACARA PUNCAK  HUT POLMAN bertempat di Auditorium Gedung Astra International.

Semoga di umur ke 21 ini , POLMAN ASTRA semakin bertambah dewasa dan JAYA SELAMANYA…!!!

 

Berikut adalah dokumentasi dan caption kemeriahaan perayaan ulang tahun POLMAN ASTRA ke 21

hutpolman10.jpghutpolman11.jpghutpolman3.jpgikapola.pnghutpolman2.jpg


hutpolman4.jpghutpolman5.jpg

hutpolman6.jpghutpolman7.jpghutpolman8.jpgbeasiswapolman1.jpg
beasiswapolman2.jpgbeasiswapolman3.jpgbeasiswapolman4.jpgbeasiswapolman7.jpgbeasiswapolman5.jpgbeasiswapolman6.jpghutpolman9.jpg
Last Updated on Tuesday, 20 September 2016 15:51
 

Serial KKNI & VOKASI : KKNI Panduan Yang Perlu Disambut Industri

Wednesday, 14 September 2016 13:11 Thomas Hargono
Print PDF
There are no translations available.

KKNI yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 8 Tahun 2012 secara esensial merupakan titik temu antara penjenjangan kualifikasi Sumber Daya Manusia (SDM) yang dihasilkan oleh dunia pendidikan, pelatihan, dan pengalaman kerja dalam rangka pengakuan kompetensi kerja yang dibutuhkan tiap-tiap sektor industri. Dengan demikian, KKNI sepatutnya menjadi suatu peraturan yang harus dipahami bukan hanya oleh kalangan dunia pendidikan formal, tetapi juga harus dipahami oleh lembaga-lembaga pelatihan, asosiasi profesi, manager training center yang ada di industri (perusahaan), serta oleh manager SDM dan manager lini yang menjadi pengguna SDM tersebut. Selain itu, KKNI seharusnya juga bukan hanya menjadi topik pembahasan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, tetapi juga perlu dipahami dan didukung implementasinya oleh Kementrian Perindustrian dan Kementrian Tenaga Kerja yang mengayomi pengembangan industri dan Ketenagakerjaan.

Apakah hal itu sudah terjadi? Sudah dipahamikah KKNI oleh semua stakeholders-nya? Perlu suatu survey untuk menjawab pertanyaan tersebut secara fair dan objective. Namun demikian, dari pengalaman mengikuti berbagai konferensi, seminar dan diskusi; pembicaraan mengenai pengembangan SDM yang mengacu kepada kualifikasi yang ada pada KKNI yang paling sering dilakukan adalah oleh kalangan praktisi pendidikan formal. Sedangkan di sektor lain yang seharusnya perlu menggunakan KKNI, misal di kalangan praktisi pengembangan SDM, pengistilahan kualifikasi SDM yang dipakai belum banyak mengacu kepada KKNI dibanding dengan kepada kualifikasi berdasarkan strata pendidikan. Hal ini menjadi suatu indikator tentang belum meratanya pemahaman tentang KKNI dan belum meluasnya pemakaian KKNI sebagai jembatan komunikasi antar berbagai sektor yang berkepentingan terhadap pengembangan dan pengelolaan SDM yang qualified.

Penerapan KKNI ke setiap Sektor dan Bidang Profesi

KKNI bukan sekedar konsep yang ada di Peraturan Presiden, tetapi harus diterapkan di semua sector dan bidang profesi karena untuk itulah dibuat Peraturan Presiden No. 8 Tahun 2012 tersebut. Karena itu sembilan (9) jenjang kompetensi yang dijabarkan dalam Peraturan Presiden tersebut perlu diterjemahkan lebih lanjut ke setiap sektor atau bidang terkait dengan difasilitasi oleh Menteri yang membidangi ketenagakerjaan dan Menteri yang membidangi pendidikan. Jika demikian, untuk kepentingan penerapan ini maka para Manager dan Executive bidang SDM di semua sektor industri perlu memahaminya dan turut mendukung penerapannya.

Dalam pasal 10 Peraturan Presiden tersebut ditetapkan batas waktu penyesuaian berbagai kebijakan terkait jenjang kompetensi diberikan waktu selama 5 (lima) tahun, dengan demikian proses penyesuaian ini batasnya adalah   17 Januari 2017, tinggal 4 bulan lagi. Akankah hal itu tercapai? Sepertinya sulit. Perlu keterlibatan semua pihak agar Peraturan Presiden ini bisa diterapkan ke semua sektor dan bidang profesi sehingga kita siap menghadapi  berbagai kerjasama di bidang ketenaga-kerjaan internasional yang sudah mengacu kepada qualification framework yang ada di masing-masing negara.

Menurut Megawati Santoso, Kordinator Tim IQF/KKNI, isu kunci dalam penerapan national qualification framework (NQF) di berbagai negara adalah seberapa cepat dan seberapa besar skala pengembangannya[i]. Di beberapa negara, program pengembangan NQF-nya didasarkan kepada grand design bahwa semua sektor yang perlu dikembangkan qualification-nya harus ikut dikembangkan dengan demikian menjadi lama dan mahal program pengembangannya. Perkiraan biaya pengembangan South Africa Qualification Framework hampir 14 juta. Lamanya Pengembangan Scotland Qualification Framework dan New Zealand Qualification Framework 15 – 20 tahun, sedangkan yang agak cepat adalah Autralia Qualification Framework yaitu sekitar 10 tahun. Jadi, target yang ditetapkan di Peraturan Presiden no. 8 tahun 2012 tersebut memang cukup optimistic, tetapi dengan sudah tertinggalnya kita dalam menetapkan kualifikasi kompetensi dari berbagai bidang profesi di tengah pasar tenaga kerja yang sudah mengglobal adalah suatu keharusan untuk mempercepat pengembangan Indonesian Qualification Framework atau KKNI. Mari kita kerjakan bersama, semua sektor dan bidang profesi bersama kementrian terkait.

KKNI dan Manfaatnya

Ada banyak manfaatnya jika KKNI sudah diterjemahkan ke semua sektor dan bidang profesi diantaranya sebagai berikut:

a. Kejelasan kualifikasi kompetensi dari setiap orang dan penghargaan terhadapnya

Melalui KKNI, berbagai orang yang memiliki kompetensi namun tidak melalui jenjang pendidikan formal, bisa mendapatkan pengakuan kesetaraan. Misalnya, seorang teknisi yang sudah bekerja dan mengembangkan kompetensinya sekian lama dan akhirnya memiliki kompetensi sbb: (i) kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan dan teknologi yang dimilikinya untuk penyelesaian masalah, (ii) menguasai konsep teori secara umum dan secara khusus di bidang keahliannya sehingga mampu menyelesaikan masalah secara procedural, (iii) mampu membuat keputusan dan memberi petunjuk dalam memilih beberapa alternative solusi secara mandiri dan kelompok, dan (iv) bertanggung jawab atas hasil pekerjaan sendiri dan mampu diberi tanggung jawab untuk pencapaian hasil kerja organisasi; maka yang bersangkutan sepatutnya diberi penghargaan kompetensi di level 6 setara dengan alumni pendidikan tinggi S1 atau D4, walaupun yang bersangkutan tidak pernah kuliah di perguruan tinggi.

b. Menjaga arah dan kualitas lembaga pelatihan dan sertifikasi profesi

Jika ada panduan dari KKNI tentang kualifikasi dari tiap level kompetensi, apalagi jika hal itu sudah diterjemahkan lebih lanjut ke tiap bidang profesi, maka hal ini bisa menjadi panduan untuk setiap lembaga pelatihan mengembangkan program-program pelatihan yang tepat dan jelas menjawab tuntutan level kompetensi yang dibutuhkan. Demikian juga dengan lembaga sertifikasi, lebih jelas penempatan leveling hasil uji kompetensi yang mereka lakukan.

Bagi para professional yang tidak mengecap pendidikan formal, tetapi ingin meningkatkan level kompetensi-nya agar bisa bekerja di industri dengan penghargaan yang lebih baik, maka mereka bisa memilih jenis-jenis pelatihan yang patut mereka ikuti dan jenis sertifikasi yang perlu mereka ambil.

c. Mendorong life-long learning

Jika butir (a) dan (b) di atas berjalan dengan baik, maka hal itu akan mendorong motivasi tenaga kerja Indonesia untuk mengembangkan diri, baik melalui pendidikan formal, pendidikan non-formal dan informal, bahkan belajar mandiri melalui membaca buku dan praktek di tempat kerja dan setelah itu mengikuti proses sertifikasi. Hal ini akan mendorong terciptanya budaya life-long learning, membentuk manusia pembelajar yang pada akhirnya meningkatkan level kualitas SDM Indonesia.

d. Meningkatkan mobilitas tenaga kerja

Karena semua negara memiliki qualification framework masing-masing dan ada konversi antara NQF suatu negara dengan negara lainnya, bahkan ada qualification framework yang sudah dibuat untuk penetingan regional seperti European Qualification Framework dan ASEAN Qualification Framework,  maka hal ini membuka peluang mobilitas tenaga kerja terampil antar negara.

Bagi perusahaan lokal Indonesia yang ingin merekrut tenaga ahli dari negara lain yang memiliki kompetensi khusus yang sangat diperlukan, KKNI dan konversinya dengan NQF dari negara asal tenaga kerja tersebut perlu dipahami sehingga kompensasi yang ditawarkan dan level penempatan di perusahaan bisa lebih tepat.

e. Membuka peluang tenaga kerja Indonesia bisa diterima dan dihargai di luar negeri

Jika butir (a), (b), dan (c) di atas sudah terjadi, maka peluang bagi tenaga kerja Indonesia untuk diterima bekerja di negara lain atau di perusahaan multi nasional menjadi lebih besar karena kualifikasi kompetensinya lebih mudah diakui dan diterima.


Hubungan Lulusan Pendidikan Formal dan Pasar Tenaga Kerja Menurut KKNI

Salah satu sosialisasi yang sudah dikeluarkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2012 adalah hubungan antara lulusan pendidikan dan pasar tenaga kerja. Dari kerangka yang digambarkan di atas terlihat ada dua jalur pendidikan formal yaitu jalur pendidikan umum atau akademis mulai dari SMA, S1, S2 dan S3, serta jalur pendidikan vokasi mulai dari SMK, D1, D2, D3, D4 yang kemudian dilanjutlkan ke S2 terapan dan S3 terapan ataupun ke jalur profesi dan spesialis.

Kedua jalur pendidikan tersebut mendapat pengakuan penyetaraan melalui level kualifikasi kompetensi di KKNI dan dikaitkan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja. Dengan demikian, tidak ada perbedaan dari segi penghargaan atas kualifikasinya bagi lulusan S1 dan D4 karena pengakuan kualifikasinya sama-sama di level 6. Yang membedakan tentu profil kompetensinya dimana lulusan D4 lebih kuat di terapannya sedangkan lulusan S1 lebih kuat di analisis-nya. Profil kompetensi yang berbeda ini menjadi pilihan bagi industri sesuai dengan penempatan dan jenis pekerjaan yang akan dikerjakan tenaga kerja tersebut.

Penutup

Ada banyak hal yang masih perlu diterjemahkan lebih lanjut mengenai penerapan KKNI ini, yang nantinya akan dibahas dalam tulisan di seri berikutnya. Pemaparan di atas kiranya dapat membuka pemahaman kalangan industri, sebagai pemakai tenaga kerja, untuk menyambut adanya KKNI ini dan turut serta mengembangkan penerapannya di beberapa sektor industri. Jika penjabaran lebih lanjut dari KKNI ke berbagai bidang profesi belum semuanya terjadi, padahal batas waktu yang disebutkan di Peraturan Presiden No. 8 Tahun 2012 tersebut tinggal 4 bulan lagi, maka tanggung jawab kita bersama untuk membantu mewujudkannya.

Jika globalisasi tenaga kerja, paling tidak dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah menjadi keniscayaan, maka kita harus mendorong peningkatan kualitas SDM Indonesia di segala bidang melalui penerapan KKNI di semua sektor terkait sehingga SDM Indonesia bisa menjadi “tuan di negeri sendiri” dan kompetitif untuk bersaing di pasar tenaga kerja global.

Mari Kita sambut dan kita bantu penerapan KKNI di semua jenis industri.

Artikel ini dibuat oleh : Tony Harley Silalahi, Direktur Polman Astra

[i] Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (Indonesian Qualification Framework), bahan presentasi yang disiapkan  oleh  Tim Sosialisasi KKNI – Program Penyelarasan Dunia Pendidikan dan Dunia Kerja, Megawati Santoso – Kordinator Tim IQF/KKNI, Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2012.

Last Updated on Tuesday, 20 September 2016 08:24
 

Serial Teknologi : Teknologi yang Mengganggu (bagian ke-1 dari 3 tulisan)

Wednesday, 14 September 2016 10:26 Thomas Hargono
Print PDF
There are no translations available.

ada dekade terakhir, dunia dikejutkan dengan fenomena perusahaan-perusahaan start-up berbasis teknologi yang memiliki nilai pasar yang sangat tinggi dalam waktu singkat. Setelah Google melalui perusahaan induknya yaitu Alphabet yang telah menjadi gurita raksasa dengan nilai pasar sebesar USD 533.4 miliar. Beberapa perusahaan baru di dunia seperti Uber yang didirikan tahun 2009 telah memiliki nilai pasar sebesar USD 68 miliar lebih tinggi dari Ford, GM, dan Honda. Perusahaan start-up seperti Airbnb juga memiliki nilai pasar yang tinggi yaitu USD 25 miliar, lebih tinggi 3 kali lipat dari Hyatt, dan sedikit lebih tinggi dari Marriot (USD 21 miliar.) dan Hilton (USD 25 miliar).

uber-gm-main-chart1

Di Indonesia, fenomena yang sama pun semakin terasa. Perusahaan-perusahaan seperti tokopedia, bukalapak, traveloka, dan sejenisnya semakin mendapatkan tempat di pasar Indonesia. Bahkan, akhir-akhir ini Gojek, Uber, dan GrabCar hingga menyebabkan gesekan sosial di masyarakat. Karena, dianggap mengganggu perusahaan jasa transportasi tradisional. Tidak hanya di Indonesia, fenomena transportasi berbasis aplikasi seperti Uber juga diprotes di seluruh dunia. Keunikan dari perusahaan-perusahaan di atas ialah mereka dianggap tidak memiliki asset nyata seperti model bisnis tradisional. Uber, Gojek, GrabCar dan sejenisnya tidak memiliki armada mobil atau motor. Tokopedia, bukalapak, dan sejenisnya tidak memiliki mall. Airbnb tidak memiliki hotel. Mereka menjadi besar mengandalkan kekuatan teknologi informasi. Kombinasi harga smartphone semakin murah serta jaringan internet yang semakin cepat membuat perusahaan-perusahaan berbasis teknologi tumbuh dengan cepat.

 

uber-gm-ford-updated1

Walaupun perusahaan-perusahaan tersebut tumbuh dengan cepat, akan tetapi masih banyak dari kita yang masih ragu dengan bisnis mereka. Banyak dari kita masih mengatakan bahwa nilai pasar mereka hanya sekedar “hype” atau seringkali disebut gelembung ekonomi dot-com yang kedua. Bahkan, banyak yang mencibir bahwa perusahaan-perusahaan tersebut besar karena “bakar uang” dan model bisnis mereka mudah direplikasi. Tetapi kita harus ingat, bahwa perusahaan-perusahaan seperti Google, Amazon, dan Ali Baba merupakan perusahaan yang berasal dari dekade “booming dot-com” sebelumnya.

Tentunya perusahaan-perusahaan tersebut tidak hanya mengandalkan aplikasi untuk tumbuh besar. Penguasaan terhadap data konsumen lah yang menjadikan Uber, Airbnb, Grabcar, Gojek , dan perusahaan aplikasi lainnya memiliki nilai yang tinggi. Smartphone yang selalu dibawa oleh konsumen merupakan sarana pemberi data yang murah dan akurat. Konsumen dengan “suka rela” memberikan data saat menggunakan aplikasi-aplikasi tersebut tanpa mereka sadari.

Data merupakan jantung dari industri berbasis teknologi. Kemampuan sebuah perusahaan mengolah data menjadi informasi yang berguna untuk bisnis mereka. Dengan memiliki data-data pelanggan maka data-data tersebut dapat ditambang dan dianalisa hingga mendapatkan model perilaku pelanggan. Model perilaku tersebut digunakan untuk memprediksikan kebutuhan pelanggan di masa depan. Perusahaan e-commerce tentunya memiliki data belanja pengguna, perusahaan transportasi berbasis aplikasi memiliki data bepergian pelanggan, perusahaan aplikasi olahraga memiliki data olahraga pelanggan, dll. Kita tentu sadar bahwa Google menggunakan data pelanggan untuk menayangkan iklan yang sesuai dengan perilaku pelanggan. Google akan menayangkan iklan sesuai dengan barang yang kita cari sebelumnya ketika kita membuka halaman google. Model bisnis advertisement-based telah menjadikan google menjadi perusahaan raksasa. Hal inilah yang menyebabkan perusahaan investasi “berjudi” dengan berharap perusahaan-perusahaan start-up akan menjadi “the next google” atau “the next facebook”.

Bagaimana dengan perusahaan-perusahaan dengan model bisnis tradisional ? apakah akan menyerah begitu saja atau ikut-ikutan masuk ke bisnis berbasis teknologi? Kita tunggu artikel berikutnya.

 

artikel ini dibuat oleh : Abdi telaga Ph.D. , salah seorang dosen POLMAN ASTRA dari program studi Manajemen Informatika dan saat ini juga menjabat sebagai staff Lembaga Pengembangan Produk dan Pengembangan teknologi (LP2M).

Last Updated on Wednesday, 14 September 2016 13:09
 

Kembangkan Vokasi ala Jepang Polman Astra Rintis Kerjasama dengan KOSEN

Wednesday, 14 September 2016 08:03 Thomas Hargono
Print PDF
There are no translations available.

Pada tanggal 14 sampai dengan 15 Juli 2016 yang lalu, National Institute of Technology (NIT), Jepang atau yang dikenal dengan KOSEN menyelenggarakan High Officials Country Level Workshop on SEA-TVET (South East Asian – Technical Vocational Education and Training), dengan tajuk “Engineering/Technology Education In Japan” yang merupakan kolaborasi South East Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) dengan pemerintah Jepang.

Direktur SEAMEO Dr. Gatot Hari Priowirjanto menyampaikan bahwa aktivitas ini dilatarbelakangi oleh analisa SEAMEO tentang percepatan perkembangan industri manufaktur global sangat diantisipasi di regional Asia Tenggara. Sehingga dukungan ketersediaan sumber daya manusia yang dikembangkan lewat Technical Training and Vocational Education (TVET) menjadi krusial. “Mekanisme pendidikan vokasi yang diterapkan di Jepang oleh KOSEN menghasilkan profil sumber daya manusia yang diakui mampu memberikan kontribusi yang besar untuk pengembangan engineering dan teknologi di Jepang”, paparnya.

Workshop ini dihadiri oleh 58 orang dari perwakilan negara-negara Asia Tenggara antara lain Indonesia, Thailand, Malaysia, Kamboja, Laos, Filipina, Singapura, serta perwakilan dari Japan Ministry of Education, Culture, Sport, Science & Technology (MEXT) dan Japan International Cooperation Agency (JICA).

Bertempat di kampus KOSEN Hachioji Tokyo ini, acara workshop dibuka langsung oleh Dr. Isao Taniguchi, President KOSEN Japan dan dihadiri juga oleh Hiroki Matsuo, Deputy Director General MEXT dan juga Dr. Koichi Shinpo, Presiden KOSEN Tokyo College.

Head Global Strategic Planning and Promotion Office KOSEN, Prof. Kazuhide Sugitomo memberikan pemarapan yang detail tentang KOSEN merupakan sistem pendidikan vokasi di Jepang yang diimplementasikan lewat 51 colleges sejak 50 tahun lalu. Seorang lulusan Sekolah Menengah Pertama dapat langsung untuk menempuh pendidikan selama 5 tahun untuk mendapat associate degree di KOSEN. Lulusan KOSEN dapat melanjutkan lagi program 2 tahun baik ke di Universitas mendapatkan gelar atau mengambil skema advance course program.

Polman Astra yang diwakili oleh Waki Direktur Tonny Pongoh mendapatkan kesempatan menjadi delegasi Republik Indonesia bersama dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaaan serta Kementrian Riset dan Teknologi – DIKTI untuk menghadiri workshop tersebut.

Dalam kesempatan tersebut Tonny Pongoh melakukan pertemuan singkat dengan Dr. Isao Taniguchi dan Dr. Gatot Hari Priowirjanto untuk membicarakan peluang kerjasama antara Polman Astra dengan KOSEN yang didukung oleh SEAMEO.Dari pembicaraan tersebut pihak KOSEN menawarkan kerjasama yang diharapkan dapat mempertajam metodologi pendidikan vokasi Polman Astra lewat pertukaran tenaga pengajar dan program riset industri serta transfer teknologi.

 

Selanjutnya Tonny menyatakan bahwa sistem pendidikan vokasi ala Jepang ini sangat penting untuk dapat diadopsi oleh Polman Astra sebagai bagian dari Group Astra yang sangat erat dengan industri Jepang.

polman-kosen1

polman-kosen2.png

kontributor : Teofilus Larosa

 


Page 1 of 3