Skip to main content

Pada hari ini, tanggal 2 Mei 2018, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional, hari penting nasional yang ditetapkan berdasarkan tanggal kelahiran dari Ki Hadjar Dewantara  atau Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, seorang aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan Indonesia dari zaman sebelum hingga awal kemerdekaan. Penetapan hari pendidikan berdasarkan tanggal kelahirannya memiliki makna penting, yaitu pertama sebagai penghargaan kepada para pendidik Indonesia, siapapun dia dari masa ke masa, dan yang kedua sebagai penghargaan kepada dunia pendidikan dan peran pentingnya bagi kemajuan bangsa.

Terimakasih Para Pendidik

Sekalipun metoda pendidikan berkembang dari masa ke masa, ilmu pengetahuan yang diajarkan juga berkembang dan semakin kompleks, kunci keberhasilan pendidikan tetaplah pada para tokoh pendidik. Karena itu, di saat memperingati Hari Pendidikan Nasional, kita patut memberi penghargaan kepada semua pendidik (guru, dosen, instruktur dan pengajar) yang telah berkontribusi mencerdaskan anak bangsa.

Pada hari ini saya sampaikan terimakasih kepada semua dosen, instruktur dan rekan-rekan yang telah mendukung terselenggaranya proses pendidikan di Politeknik Manufaktur Astra  (Polman Astra). Anda telah turut mendidik putra-putri bangsa ini untuk mendukung perkembangan dan pertumbuhan industri Indonesia. Mereka yang telah menjadi alumni dan bekerja di berbagai industri, ketika menyampaikan doa dan rasa syukur atas nikmat yang mereka peroleh dari karir, pekerjaan dan bisnis mereka, maka itu menjadi doa syukur dan terimakasih atas kontribusi dan dedikasi para dosen, instruktur dan pendidik yang sudah mengajar mereka dengan baik.

Hari ini saya haturkan terimakasih juga kepada para guru yang sudah mengajar para murid dan siswa di berbagai jenjang pendidikan dengan tulus dan sepenuh hati.

Pendidikan dan Nasionalisme

Penghargaan hari pendidikan yang mengambil tanggal lahir dari Ki Hadjar Dewantara tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan kontribusi kehidupannya bagi bangsa. Terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, ia adalah keturunan bangsawan Jawa. Namun pada umur 40 tahun (hitungan tahun Saka) dia berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara dengan tujuan agar lebih leluasa dan lebih dekat dengan rakyat. Ia terlibat dalam gerakan perjuangan kemerdekaan. Pada tahun 1908 ikut aktif di Boedi Oetomo untuk menggugah kesadaran rakyat tentang pentingnya persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kemudian, bersama Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, pada tanggal 25 Desember 1912 dia mendirikan Indische Partij yang merupakan partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia dengan tujuan mencapai Indonesia merdeka[i]. Pada tahun 1922 Ki Hadjar Dewantara mendirikan sekolah Taman Siswa yang kontribusinya besar dalam bidang pendidikan di awal republik ini.

Kilas balik kehidupan Ki Hadjar Dewantara ini memberi gambaran bahwa pendidikan untuk bangsa digerakkan oleh semangat nasionalisme memajukan bangsa. Semangat persatuan dan kesatuan bangsa akan membawa pendidikan fokus untuk memajukan bangsa. Kecintaan yang kuat pada Indonesia memunculkan keinginan kuat mencerdaskan anak bangsa.

Pendidikan dan Idealisme Sosial

Dalam zaman moderen dimana hitung-hitungan bisnis mewarnai berbagai kehidupan, namun sebagai mahluk sosial manusia tetap terpanggil melakukan berbagai hal dengan ketulusan dalam menolong sesama. Namun demikian, ada tarik-menarik antara kepentingan sosial  dan komersial. Misalnya di bidang pendidikan, di satu sisi jika pendidikan berbayar atau jika biaya pendidikan mahal masyarakat protes. Di sisi lain, para pendidik juga protes jika dibayar tidak sesuai dengan jasa dan kontribusinya. ‘Pahlawan tanpa tanda jasa’ sudah menjadi istilah yang kurang berkenan. “Tidak ada yang gratis di bawah matahari”, kata orang. Ya, guru dan pendidik juga butuh uang untuk hidup, membeli buku dan berbagai keperluan hidup layak.

Dorongan untuk tetap adanya idealisme dalam pendidikan tercermin dalam Pasal 31 ayat 4 UUD 1945 Amandemen ke 4 yang mengamanatkan bahwa negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN serta dari APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. Hal ini dikuatkan dengan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor: 013/PUU-VI/2008, Pemerintah harus menyediakan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN dan APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.[ii] Idealisme sosial dari pendidikan diwujudkan dengan kehadiran negara sesuai cita-cita pendirian negara ini yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini yang terus diperjuangkan agar penyediaan pendidikan yang terjangkau di republik ini bisa terjadi. Sejak APBN 2010 target budget pendidikan 20% dari APBN sudah tercapai melalui tiga jalur alokasi anggaran pendidikan: belanja pemerintah pusat, transfer ke daerah, dan dana pengembangan pendidikan nasional.

Apakah APBN cukup untuk membiayai semua kepentingan pendidikan? Dalam kenyataannya tidak cukup. Biaya pendidikan di zaman modern ini semakin mahal. Biaya pendidikan guru dan dosen juga semakin mahal, apalagi jika studi lanjut di luar negeri. Biaya operasional pendidikan sains dan teknik juga tidak murah, apalagi pendidikan vokasi untuk teknologi tinggi yang membutuhkan investasi mesin yang mahal dan bahan praktek yang tidak murah. Karena itu, kehadiran sektor swasta dan para filantropi (orang atau organisasi yang mendonasikan kekayaannya untuk kegiatan sosial) dalam membantu pendanaan pendidikan menjadi sangat penting. Hal ini bukan hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di banyak tempat di dunia. Pendidikan adalah hak azasi semua orang tetapi pendidikan tidak murah, karena itu perlu upaya dan keterlibatan banyak pihak agar pendidikan tersedia untuk mencerdaskan bangsa.

Kepedulian Astra Melalui Polman Astra

Sebagai perusahaan (kelompok usaha) yang memiliki cita-cita untuk mensejahterakan bangsa, sesuai dengan cita-cita yang dicanangkan pendiri Astra Group, Om William Soeryadjaya (alm.), maka pendidikan menjadi salah satu pilar kegiatan sosial perusahaan. Salah satu perwujudan kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan Astra Group di bidang pendidikan adalah melalui pendirian, dukungan pengadaan fasilitas pendidikan dan pendanaan operasional Polman Astra, yang disalurkan melalui Yayasan Astra Bina Ilmu.

Polman Astra sebagai pendidikan tinggi vokasi sangat diperlukan untuk mendukung kemajuan industri. Penyelenggaraan pendidikan vokasi ini penting bagi industri Indonesia, tidak hanya bagi industri Astra, karena secara umum mahasiswa Polman Astra tidak ada ikatan dinas dengan Astra. Karena itu, diharapkan idealisme kegiatan sosial Astra untuk mensejahterakan bangsa menjadi jiwa setiap insan Polman Astra dalam menyelenggarakan kegiatan pendidikan di Polman Astra. Ada semangat bergelora dan kepedulian yang tinggi untuk mendidik para mahasiswa menjadi insan yang kompeten yang memajukan industri Indonesia.

Idealisme Pendidik di Era Digitalisasi

Apakah idealisme seorang pendidik masih diperlukan ditengah dunia yang semakin komersial dan transaksional ini? Jika direnungkan dan dipahami hakekat perjuangan pendidikan untuk memajukan bangsa jawabannya adalah “ya”. Di dunia ada cukup banyak orang yang punya idealisme sebagai pendidik dan mereka tidak kekurangan. Salah satu contoh hebat di dunia di era digitalisasi yang mengarah ke pervasive computing ini adalah Salman Khan yang mendirikan Khan Academy yang menyediakan bahan-bahan pelajaran di bidang Science dan Math  secara online untuk menolong murid-murid di seluruh dunia bisa belajar dengan baik. Akses diberikan secara gratis. Awalnya bahan pelajaran tersebut tersedia hanya dalam bahasa Inggris, saat ini sudah tersedia dalam berbagai bahasa lain seperti Spanyol, Portugis, Ibrani, Italia, Rusia, China, Turki, Perancis, Bengali, Hindu dan Jerman.[iii] Bahkan di youtube saat ini sudah tersedia beberapa terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Khan Academy bermula tahun 2008 saat Salman Khan diminta salah satu sepupunya untuk memberikan tutorial atas pelajaran yang sulit. Dia mengajarkannya melalui internet dengan memakai Yahoo! Doodle Images. Setelah itu sepupunya yang lain juga menggunakan bahan tersebut. Karena banyaknya permintaan, Khan membuat bahan bimbingan belajarnya tersedia di youtube dan teknologi yang digunakan juga berkembang. Akhirnya, Salman Khan yang tadinya melakukan hal itu sebagai kegiatan sampingan, pada tahun 2009 full-time mendedikasikan diri mengembangkan pembelajaran online dengan mendirikan Khan Academy.

Dengan dampak kegiatannya yang terlihat menolong banyak orang untuk belajar, Khan Academy akhirnya mendapat dukungan pendanaan dari banyak organisasi filantropi.  Informasi di Wikipedia menyebutkan tahun 2010 Google mendonasikan 2 juta USD untuk pembuatan bahan pelajaran dan menterjemahkannya ke berbagai bahasa, AT&T mendonasikan 2,25 juta USD. Dalam laporan tahunan Khan Academy tahun  2016 diinformasikan ada 10 perorangan dan yayasan yang menyumbang diatas 1 juta USD, ada 3 yayasan menyumbang antara 500 ribu hingga 999,9 ribu USD, dan beberapa lagi dengan nilai di bawah itu, dan yang menarik disebutkan ada ratusan ribu Learners Fund (pendukung yang menyumbang antara 1.000 sampai 100.000 USD setahun) dan community donors yang setia mendukung Khan Academy[iv].

Kisah Khan Academy ini memberi inspirasi bahwa kegiatan pendidikan gratis yang dilakukan dengan tulus dan berkualitas, akhirnya menarik banyak orang mengulurkan tangan untuk membantu dan mendukung. Salman Khan pun tidak perlu khawatir akan kehidupannya karena dengan kerja profesionalnya, sesuai dengan ketentuan yang ada, menurut data yang ada di Wikipedia dia dapat menerima gaji setahun sebesar 800.000 USD di tahun 2015.

Kisah Salman Khan adalah salah satu kisah dari banyak kisah mencerdaskan banyak orang di era digitalisasi ini. Sebagian menuai sukses sebagian mungkin masih berjuang untuk survive  dan bisa melanjutkan misinya. Apapun situasinya, di segala zaman orang selalu kagum dan hormat kepada para pendidik yang berbakti dengan tulus mencerdaskan banyak orang.

Penutup: Mari Menjadi Pendidik Tulus Berdedikasi

Di awal tulisan ini telah disebutkan penetapan Hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2 Mei mengambil tanggal kelahiran dari Ki Hadjar Dewantara, tokoh pendidikan sebelum dan di awal berdirinya Republik Indonesia, juga merupakan penghargaan kepada pribadi para pendidik. Ki Hadjar Dewantara merepresentasikan kita para pendidik.

Di saat memulai kiprahnya di bidang pendidikan Ki Hadjar Dewantara tidak punya obsesi dan cita-cita agar namanya tercatat sebagai tokoh dan suatu saat tanggal kelahirannya diabadikan sebagai hari pendidikan. Catatan sejarah menunjukkan yang menggerakkannya sebagai pendidik adalah kepedulian untuk mencerdaskan bangsa. Hal yang sama terjadi dengan Salman Khan dalam skala dunia di zaman digitalisasi ini. Dia digerakkan dengan kepedulian mencerdaskan sepupunya dan banyak orang lain yang membutuhkan, bukan gaji ratusan ribu dollar. Namun, setiap orang yang berdedikasi untuk mendidik umat manusia dan melakukannya dengan cara terbaik dan tulus, pasti akan mendapatkan penghargaan dari Tuhan dan manusia.

Di hari pendidikan nasional ini mari bertekad menjadi pendidik berdedikasi. Jadikan Polman Astra sebagai tempat pembelajaran vokasi terbaik bagi setiap mahasiswa. Mereka pasti sangat menghargai. Tuhan pun akan memberkati.

Selamat hari  Pendidikan Nasional…!



[i]Ki Hajar Dewantara, Pemersatu Bangsa yang Selalu Terkenang Saat Hardiknas”, pikiran-rakyat.com tgl. 02 Mei 2018 terdapat pada http://www.pikiran-rakyat.com/pendidikan/2018/05/02/ki-hajar-dewantara-pemersatu-bangsa-yang-selalu-terkenang-saat-hardiknas

[ii] Hasan Ashari, “Anggaran Pendidikan 20%, Apakah sudah dialokasikan?”, Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Kementrian Keuangan, 30 Desember 2014, terdapat pada http://www.bppk.kemenkeu.go.id/id/publikasi/artikel/147-artikel-anggaran-dan-perbendaharaan/20310-anggaran-pendidikan-20-,-apakah-sudah-dialokasikan

[iii] “Khan Academy”, terdapat pada https://en.wikipedia.org/wiki/Khan_Academy

[iv] “Khan Academy 2016 Annual Report”, terdapat pada http://khanacademyannualreport.org/

Leave a Reply

EnglishIndonesian